Langsung ke konten utama

Buku dan Pensil

Hei pensil....
sudah lama ya kita saling tau
kau tuliskan banyak cerita diatasku
kau warnai lembaran yang semula putih bersih menjadi menarik untuk dilihat

semula, aku tak pernah mau untuk berbagi lembaran-lembaran itu kepada siapapun
tapi aku senang ketika aku berbagi denganmu

tapi.., sepertinya aku terlena
hingga akhirnya aku egois
aku sering mengeluh ketika kau tak mau menuliskan cerita lagi di lembaranku
aku mengeluh..ketika kau tak mau membuka lembaran-lembaran yang pernah kau tulis

dulu ketika aku tau kau,
semua terasa sangat menyenangkan hingga bodohnya aku terlalu bergantung padamu
mungkin aku selalu ingin bersenang-senang denganmu
menciptakan karya bersama, menulis, atau mewarnai lembaran-lembaran yang masih putih bersih itu

kini kau menghindar dan sayangnya aku tak tau alasannya
mmm....apa kau menemukan buku lain yang lembarannya lebih banyak?
apa kau sudah bosan menuliskan cerita dan mewarnai lembaran-lembaranku?
apa ada buku lain yang selalu siap kau warnai lembarannya?
oh...atau garis-garis dan kertas besar itulah yang menjadi alasan semua ini?
atau...buku bodoh ini yang terlampau batas?

apapun pilihanmu, aku akan selalu melihatmu bersenang senang :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

10:31 pm.

Saya kembali menulis di blog ini, itu artinya ada beberapa hal yang tidak bisa saya ungkapkan melalui kata-kata. Ada beberapa hal yang saya sendiri kebingungan untuk menceritakannya kepada keluarga maupun teman dekat.  Pernahkah kalian merasa payah ? merasa punya banyak sekali kekurangan dalam diri kita.  Beberapa hari ini saya sedang merasa heran betapa payahnya saya, terutama dari segi komunikasi, lagi-lagi masalah saya ada pada hal komunikasi. Saya tipe orang yang mudah panik , saat panik melanda, pikiran nggak bisa buat mikir jernih, akhirnya banyak sekali kesalahan dalam hal menyampaikan apa yang ingin saya maksud. Bukan hanya kesalahan dalam menyampaikan, kadang saya melakukan hal-hal yang justru merugikan diri saya sendiri. Ya. itu akibat ke-payah-an saya dalam berkomunikasi. Saat ini pekerjaan saya menuntut saya untuk baik dalam berkomunikasi, saya mencoba perbaiki pola komunikasi saya. Saya belajar merangkai, memilah kata yang tepat untuk rekan kerja, baik yang senior...

Menikah (?)

Menikah sering jadi tujuan besar sebagian orang. Menggelar momen sakral pernikahan dengan megah, riasan cantik ala-ala, menabung bertahun tahun demi menggelar perhelatan 1 hari yang tak akan terulang (semoga). Menikah seolah menjadi salah satu tujuan hidup untuk bahagia. Apakah benar begitu adanya?? Semakin kesini justru aku tak begitu bersemangat meraih pernikahan, walaupun mungkin targetku tahun depan, tapi mentalku tak benar-benar siap .. Kata orang, setelah menikah maka kebahagiaan kita akan lebih sempurna?? Sungguh?? Atau justru kita akan lebih menderita?? Kata orang seseorang yang sudah menemukan separuh jiwanya akan lebih tenang dan tentram, benarkah? Saat sudah menikah kelak, apa aku masih bisa ketawa-ketiwi menertawakan hal-hal lucu? Atau aku akan lebih sering menangis tersedu karena hati yang pilu? Kata orang, kalau sudah berumah tangga harus siap dengan segala resiko,  sekalipun itu yang terburuk? Tapi apakah kita tidak boleh berharap bahagiaa?? Sebegitu menakutkankah ? ...