Langsung ke konten utama

AKU HARUS PUNYA MIMPI

Kira kira perumpamaan apa ya yang bisa mengibaratkan seorang saya saat ini? 
"seperti burung yang nggak terbang tapi ngesot" nah kayakya itu tepat banget! Aliasnya nih kalimat itu saya jiplak dari kakak kelas saya namanya mas aziz. Kemaren saya ngampus sore sore buat kumpul organisasi yang saya ikuti namanya "Computational Chemistry Club (Triple C)", itu hari pertama saya kumpul sama anak-anak triple C buat ngebahas soal magang. sebelumnya ada perkenalan dulu dari ketuanya plus sambutan gitu deeh. Ketuanya ya mas aziz tadi itu. Akhir akhir sambutan dia bilang gini nih

"Triple C tahun 2013 itu beda sama organisasi lain bedanya adalah kita ibarat burung nggak terbang tapi ngesot"

pas pertama denger sempet mau ngakak juga sih habis perumpamaannya jelek banget. Bingung juga nih maksutnya konotasi ke arah yang positif apa negatif, kalo positif masak dari terbang malah jadi ngesot, tapi kalo negatif kok katanya kita beda. AHHHHHH pusing whateverlah sama apa yang dipikirin mas aziz. 

Tapi perumpamaan itu saya rasa cocok banget sama keadaan saya saat ini. Menurut saya yang dimaksut burung ngesot tadi adalah burung yang tidak semestinya. Jadi burung ini tuh beda sama burung-burung yang lain.  Apa mungkin burungnya keturunan suster ngesot ya? Aduh pusing lagi kan malahan mikir arti burung ngesot tadi!

Ya intinya kalimat itu kalau di konversikan ke diri saya adalah saya beda sama teman-teman saya. Saya juga kadang bingung sendiri kok bisa saya nggak seperti umumnya teman-teman saya. Kalau lagi baca di sosmed banyak temen-temen saya yang nulis tentang mimpi mereka. Mulai dari pengen ke prancis, pengen naik gunung, pengen keliling dunia, pengen jadi enterpreuner sukses, sampai pengen cepet-cepet ketemu jodohnya. (yang terakhir curhatan pribadi). Mereka bener bener pengen mimpinya itu bisa terwujud. Banyak cara buat ngungkapin mimpi mereka. Misalnya nih layout twitter gambar menara eifel atau langsung aja blak-blakan di twit-twitnya mereka. Sempet mikir sih kenapa saya nggak punya mimpi setinggi yang mereka punya. Terlalu simple mimpi saya -lulus kuliah,kerja,punya suami,punya anak,bahagia- sesederhana itu. Tapi dipikir-pikir -kebanyakan mikir- sih kalau saya punya mimpi yang boleh dikata level 10, setidaknya kalau nggak kesampaian saya akan jatuh di level 9. Tapi kalau saya cuman punya mimpi di level 1 kalau jatuh mau kemana coba? emang ada level 0?

Sejujurnya kenapa saya nggak berani mimpi setinggi itu karena saya ngrasa minder sama diri saya sendiri. Saya cuman kuliah di jurusan pendidikan, akhir-akhirnya ya paling jadi guru~ terlalu pasrah sama keadaan, bisa dibilang kayak gitulaah. Nggak ada usaha buat ngerubah keadaan itu. Okee pindah jurusan atau pindah universitas emang nggak bakal mungkin lagian duit darimaneee? tapi setidaknya saya harus menjadi guru yang "beda". Ya bener banget ! SAYA HARUS JADI GURU YANG BEDA !!!! Mungkin guru yang kalau nongkrong di menara eiffel -ati ati kesetrum bu guru- , mungkin aja guru yang ngelesinnya di Manchester, atau mungkin guru yang kalau beli buku musti ke London. Wah keren juga ya kalau ada guru kayak gitu dan itu saya!!

Banyak orang bilang "nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini". Uda sering denger sih kata-kata itu, tapi kayaknya belum ngebuktiinnya. Yauda gini aja mulai hari ini tepatnya tanggal 20 Januari 2013 jam 14:55 pm SAYA BERJANJI AKAN NGEBUKTIIN KATA-KATA YANG BANYAK ORANG LAIN BILANG ITU ! SAYA AKAN BERUSAHA JADI GURU YANG "BEDA" ! DAN SAYA HARUS PUNYA MIMPI SETINGGI TINGGINYA sekiaaaannnn......................

Komentar

Postingan populer dari blog ini

10:31 pm.

Saya kembali menulis di blog ini, itu artinya ada beberapa hal yang tidak bisa saya ungkapkan melalui kata-kata. Ada beberapa hal yang saya sendiri kebingungan untuk menceritakannya kepada keluarga maupun teman dekat.  Pernahkah kalian merasa payah ? merasa punya banyak sekali kekurangan dalam diri kita.  Beberapa hari ini saya sedang merasa heran betapa payahnya saya, terutama dari segi komunikasi, lagi-lagi masalah saya ada pada hal komunikasi. Saya tipe orang yang mudah panik , saat panik melanda, pikiran nggak bisa buat mikir jernih, akhirnya banyak sekali kesalahan dalam hal menyampaikan apa yang ingin saya maksud. Bukan hanya kesalahan dalam menyampaikan, kadang saya melakukan hal-hal yang justru merugikan diri saya sendiri. Ya. itu akibat ke-payah-an saya dalam berkomunikasi. Saat ini pekerjaan saya menuntut saya untuk baik dalam berkomunikasi, saya mencoba perbaiki pola komunikasi saya. Saya belajar merangkai, memilah kata yang tepat untuk rekan kerja, baik yang senior...

Tulisan Acak

Physical Distancing meminta kita untuk menjauh atau menghindari kerumuman orang, tapi di dalam otakku seakan berkumpul ribuan orang yang berbicara entah apa.. Apa yang sebenarnya terjadi di otak ?  Hendak menguraikan satu persatu benang kusut yang ada di dalamnya, sulit sekali rasanya Ditemani lagu dari White Shoes and & The Couples Company berjudul Kisah Dari Selatan Jakarta , dilanjutkan Senandung Maaf yang selalu jadi lagu yang tepat untuk menyampaikan maaf ke siapa saja.. Langkah kaki mau kemana ? sudah ada rencana ? 3 tahun bekerja dapat apa ? Bapak....Ibuuu....apakah kau bangga dengan anakmu ini ?! Mereka berisik sekalii Pak, Bu.. Aku lelah menanggapinya.. Dimana-mana hanya jadi figuran saja aku ini.. Bisa apa aku ? Mengapa energi ini seakan habis tak bersisa, tak ingin apa-apa, tak mau gerak kemana-mana.. Apa tujuan hidup sebenarnya ? Coba beri aku definisi tentang Bahagia??

Menikah (?)

Menikah sering jadi tujuan besar sebagian orang. Menggelar momen sakral pernikahan dengan megah, riasan cantik ala-ala, menabung bertahun tahun demi menggelar perhelatan 1 hari yang tak akan terulang (semoga). Menikah seolah menjadi salah satu tujuan hidup untuk bahagia. Apakah benar begitu adanya?? Semakin kesini justru aku tak begitu bersemangat meraih pernikahan, walaupun mungkin targetku tahun depan, tapi mentalku tak benar-benar siap .. Kata orang, setelah menikah maka kebahagiaan kita akan lebih sempurna?? Sungguh?? Atau justru kita akan lebih menderita?? Kata orang seseorang yang sudah menemukan separuh jiwanya akan lebih tenang dan tentram, benarkah? Saat sudah menikah kelak, apa aku masih bisa ketawa-ketiwi menertawakan hal-hal lucu? Atau aku akan lebih sering menangis tersedu karena hati yang pilu? Kata orang, kalau sudah berumah tangga harus siap dengan segala resiko,  sekalipun itu yang terburuk? Tapi apakah kita tidak boleh berharap bahagiaa?? Sebegitu menakutkankah ? ...