Langsung ke konten utama

Kolaborasi Dapur Bersama Ibu

Hari ini pengen cerita yang ringan-ringan aja, tanpa kode atau kata-kata puitis seperti 3 tulisan sebelumnya hehe
Ramadhan hampir menuju hari keempat tapi alhamdulillah sudah banyak sekali pelajaran,  dan sebagian besar aku dapat dari Ibu..
Selama ramadhan ini saya, kakak, dan ibu bersepakat untuk lebih melebarkan sayap dari usaha kuliner kecil-kecilan kami yg mulai kurintis tahun 2019. Awalnya usaha ini hanya iseng-iseng saja karena berniat untuk memasarkan produk makanan yang dibuat oleh bulek yang harus berperan sebagai single parent. Lalu kubuatlah instagram dan aku upload foto-foto makanan buatan bulek ditambah makanan yang aku dan ibuku buat, produk awal kami yaitu tape ketan,kue lebaran, dan zuppa soup. Alhamdulillah peminatnya lumayan banyak saat kami buka Pre Order. Produk-produk makanan selanjutnya didapat tanpa sengaja, dan kadang terpikirkan disaat yang tidak terduga 😀
Singkat cerita,  produk iseng yang paling booming dari usaha kuliner kami adalah pangsit isi. Renyah dan gurihnya kulit pangsit diisi dengan campuran ayam dan udang yang kaya akan bumbu hmmm bisa dibayangin kan gimana nikmatnya?? 😀 Berawal dari tetangga yang memproduksi kulit pangsit,  muncullah ide pengen buat pangsit isi untuk dimakan sendiri. Setelah jadi, diicip icip dan ternyata rasanya enak banget plus pangsitnya instagramable kalau difoto hehe seketika ambil piring, nata pangsit, dihias pakai daun bawang dan lombok setan, lalu difoto di semak-semak taman Bapak , and then diupload deh dengan caption ala-ala penjual kuliner profesional 😅 Dari situlah usaha kami mulai dikenal banyak orang, terutama masyarakat Ungaran. Permintaan pangsit mulai banyak mendekati Ramadhan, dan berlanjut hingga sekarang, alhamdulillah..
Dari ramadhan pertama hingga keempat ini, setiap hari kami harus memproduksi pesanan, dan yang paling diminati konsumen saat ini adalah pangsit, strudel, dan kue lebaran. Saya di spesialis baking, sedangkan Ibu lebih ke masakan gurih. Dari pagi hingga malam, sebagian besar aktivitas kami berada di dapur 😀 Di hari ketiga ramadhan, baru terasa boyok encok karena seharian berkutat dengan adonan kastengel, malem-malem rasanya pengen nangis saking pegelnya ni boyok. Ternyata emang nyari uang itu nggak mudah dan butuh perjuangan ya, dengan seperti ini saya jadi lebih menghargai uang, serta lebih bijak mengeluarkannya untuk hal-hal yang memang jadi skala prioritas 😅
Yang saya salut adalah Ibu saya yang nggak kelihatan ngeluh sama sekali dan justru menikmati tahap demi tahap memasak yang nggak singkat itu. Selama lockdown, kegiatan saya lebih banyak di rumah sehingga saya harus terjun ke dunia per-rumah-tanggaan. Kerjaan ibu rumah tangga itu nggak sedikit yaa ternyata haha seketika saya berpikir, jadi Ibu rumah tangga itu bukan hal yang mudah,  dari pagi sampai malam kerjaan rumah nggak ada habisnya. Mulai dari masak nasi hingga manasin masakan yang masih sisa biar tidak basi. Dan seorang ibu rumah tangga melakukan itu hampir setiap hari lhooh, kurang keren apa coba ckck.
Bapakku tipe orang yang terima beres, bisa dibilang jarang banget bantu ibu untuk ngurusi pekerjaan rumah. Apa-apa harus istrinya. Ya mungkin tipe laki-laki kebanyakan seperti itu ya. Ibu sering ngerasa sebel ke Bapak kalau Bapak "maido / complain" (nggak tau bahasa indonesianya wkwk) tentang masakan ibu yang kurang asin lah, kurang apa lah. Hmmm ya bener sih ibu bakal sebel, belakangan ini baru kerasa bahwa masak itu nggak sesingkat yg kita bayangkan, dari proses meracik bumbu sampai masakannya mateng dan siap masuk ke mulut kita. Belum lagi nanti kalau udah selesai makan harus nyuci piring dan gelas kotor ckck. Kalau kita udah istilahnya berjuang untuk membuat 1 masakan tapi kok masih ada yang complain, wajar banget kalo kita sebel, apalagi yang complain nggak bantuin apa-apa, minimal cuci piring sendirilah wkwk. From this case, terpikirlah satu tipe laki-laki idaman yang kelak akan jadi suami saya. Yap, harus bisa bantuin ngurus pekerjaan rumah. Kayaknya sih ini bakal jadi point penting dalam menyeleksi calon suami nanti wkwk. Rumah tangga dibangun berdua, tentu diperlukan kolaborasi dari dua orang itu juga kaan. "Lhoh kan laki-laki tugasnya cari nafkah buat keluarga???" hmmm nah kalau istrinya seorang pekerja juga gimana doong? Udah nyari uang, ngurus anak, ngurus kerjaan dirumah yang nggak ada habisnyaaa. Please deh buat bapak-bapak di seluruh dunia tolong ngertiin ini. Tugas seorang istri tu banyaaak bangeet, belum lagi kalau Bapak complain ini dan itu huhu. Ya paling engga ketika istrinya nyuci piring, tolonglah bapak ngajak mainan anaknya dulu,bukan malah ngerokok atau autis sama gadget sendiri. Yang aku lihat kebanyakan sih ketika seorang wanita sudah menikah, bukan tambah ringan beban hidup nya karena dipikul berdua, tapi malah lebih berat ! ya salah satunya karena tadi, karena kebanyakan suami tu nggak tau gimana sih ribetnya kerjaan di rumah, mungkin bukan nggak tau, tapi malah NGGAK MAU TAU haha maaf emosi. (maafkan gadis single yang sok tahu ini 😁)
Intinya sih aku sangat bangga dan salut kepada seluruh ibu di dunia ini terutama Ibuku. Sabarnya, kuatnya, ikhlasnyaa , benar-benar luar biasaa  dan tak tertandingi :" 
Harapanku saat ini adalah aku bisa lebih membesarkan usaha kuliner ini, yang mungkin saat ini masih dalam tahap merintis dan apa-apa dikerjain sendiri. 
Ibu doakan anakmu ini semoga cita-cita untuk membuka usaha keluarga bisa tercapai dengan sukses dan bismillah suatu saat nanti kita bisa punya pegawai biar apa-apa nggak kita kerjain sendiri ya bu..aamiinn 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10:31 pm.

Saya kembali menulis di blog ini, itu artinya ada beberapa hal yang tidak bisa saya ungkapkan melalui kata-kata. Ada beberapa hal yang saya sendiri kebingungan untuk menceritakannya kepada keluarga maupun teman dekat.  Pernahkah kalian merasa payah ? merasa punya banyak sekali kekurangan dalam diri kita.  Beberapa hari ini saya sedang merasa heran betapa payahnya saya, terutama dari segi komunikasi, lagi-lagi masalah saya ada pada hal komunikasi. Saya tipe orang yang mudah panik , saat panik melanda, pikiran nggak bisa buat mikir jernih, akhirnya banyak sekali kesalahan dalam hal menyampaikan apa yang ingin saya maksud. Bukan hanya kesalahan dalam menyampaikan, kadang saya melakukan hal-hal yang justru merugikan diri saya sendiri. Ya. itu akibat ke-payah-an saya dalam berkomunikasi. Saat ini pekerjaan saya menuntut saya untuk baik dalam berkomunikasi, saya mencoba perbaiki pola komunikasi saya. Saya belajar merangkai, memilah kata yang tepat untuk rekan kerja, baik yang senior...

Menikah (?)

Menikah sering jadi tujuan besar sebagian orang. Menggelar momen sakral pernikahan dengan megah, riasan cantik ala-ala, menabung bertahun tahun demi menggelar perhelatan 1 hari yang tak akan terulang (semoga). Menikah seolah menjadi salah satu tujuan hidup untuk bahagia. Apakah benar begitu adanya?? Semakin kesini justru aku tak begitu bersemangat meraih pernikahan, walaupun mungkin targetku tahun depan, tapi mentalku tak benar-benar siap .. Kata orang, setelah menikah maka kebahagiaan kita akan lebih sempurna?? Sungguh?? Atau justru kita akan lebih menderita?? Kata orang seseorang yang sudah menemukan separuh jiwanya akan lebih tenang dan tentram, benarkah? Saat sudah menikah kelak, apa aku masih bisa ketawa-ketiwi menertawakan hal-hal lucu? Atau aku akan lebih sering menangis tersedu karena hati yang pilu? Kata orang, kalau sudah berumah tangga harus siap dengan segala resiko,  sekalipun itu yang terburuk? Tapi apakah kita tidak boleh berharap bahagiaa?? Sebegitu menakutkankah ? ...

Buku dan Pensil

Hei pensil.... sudah lama ya kita saling tau kau tuliskan banyak cerita diatasku kau warnai lembaran yang semula putih bersih menjadi menarik untuk dilihat semula, aku tak pernah mau untuk berbagi lembaran-lembaran itu kepada siapapun tapi aku senang ketika aku berbagi denganmu tapi.., sepertinya aku terlena hingga akhirnya aku egois aku sering mengeluh ketika kau tak mau menuliskan cerita lagi di lembaranku aku mengeluh..ketika kau tak mau membuka lembaran-lembaran yang pernah kau tulis dulu ketika aku tau kau, semua terasa sangat menyenangkan hingga bodohnya aku terlalu bergantung padamu mungkin aku selalu ingin bersenang-senang denganmu menciptakan karya bersama, menulis, atau mewarnai lembaran-lembaran yang masih putih bersih itu kini kau menghindar dan sayangnya aku tak tau alasannya mmm....apa kau menemukan buku lain yang lembarannya lebih banyak? apa kau sudah bosan menuliskan cerita dan mewarnai lembaran-lembaranku? apa ada buku lain yang selalu siap kau wa...